2.4 KOMPONEN PENGENDALIAN INTERN VERSI COSO

Pengendalian Internal menurut COSO yaitu :

  Internal control is process, affected by entilitys board of directors, management and other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the following categories: Effectiveness and efficiency of operations, Realibillty of Financial Reporting, Compliance with Applicable laws and regulations.

atau dalam terjemahan bebasnya adalah sebagai berikut : sistem pengendalian internal merupakan suatu proses yang melibatkan dewan komisaris, manajemen, dan personil lain, yang dirancang untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga tujuan berikut ini: Efektivitas dan efisiensi operasi, Keandalan pelaporan keuangan, Kepetuhan kerhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

    Komponen pengendalian internal menurut COSO adalah :

  1. Lingkungan pengendalian (control environment) . Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian internal. Faktor-faktor lingkungan pengendalian mencakup integritas, nilai etis, dan kompetensi dari orang dan entitas, filosofi manajemen dan gaya operasi, cara manajemen memberikan otoritas dan tanggung jawab serta mengorganisasikan dan mengembangkan orangnya, perhatian dan pengarahan yang diberikan oleh board.
  2. Penaksiran risiko (risk assessment). Mekanisme yang ditetapkan untuk mengindentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko-risiko yang berkaitan dengan berbagai aktivitas di mana organisasi beroperasi.
  3. Aktivitas pengendalian (control activities). Pelaksanaan dari kebijakan-kebijakan dan  prosedur-prosedur yang ditetapkan oleh manajemen untuk membantu memastikan bahwa tujuan dapat tercapai.
  4. Informasi dan komunikasi (informasi and communication) . Sistem yang memungkinkan orang atau entitas, memperoleh dan menukar informasi yang diperlukan untuk melaksanakan, mengelola, dan mengendalikan operasinya.
  5. Pemantauan (monitoring). Sistem pengendalian internal perlu dipantau, proses ini bertujuan untuk menilai mutu kinerja sistem sepanjang waktu. Ini dijalankan melalui aktivitas pemantauan yang terus-menerus, evaluasi yang terpisah atau kombinasi dari keduanya Kelima komponen IC di atas memiliki hubungan yang erat satu sama lain. Larry F Konrath (1999) menggambarkan kelima komponen tersebut bagaikan sebuah bangunan rumah dimana

Lingkungan Pengendalian menjadi pondasinya.

    Penilaian risiko, aktivitas pengendalian dan informasi dan komunkasi menjadi pilar-pilarnya. Sedangkan Monitoring menjadi atapnya. Dengan demikian, sebuah IC akan berjalan secara efektif jika kelima unsur tersebut terbangun dengan baik dan beroperasi sesuai proporsinya masing-masing.

    Menurut COSO, semua orang dalam organisasi yaitu Manajemen, Dewan direksi, Komite Audit, dan Personel lainnya bertanggung jawab terhadap pengendalian internal, karena semua orang dalam organisasi memiliki peran dalam pengendalian internal, sehingga pengendalian internal tidak dapat berjalan dengan baik apabila ada salah satu anggota yang tidak menjalankan perannya dalam pengendalian internal.

    Pihak-pihak luar seringkali memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan perusahaan, seperti

Auditor eksternal, Badan Regulasi dan legislatif, customer, analis keuangan, dan media massa. Namun demikian pihak ketiga tersebut tidak bertanggung jawab terhadap pengendalian internal karena mereka bukan bagian dari organisasi maupun bukan bagian dari sistem pengendalian internal.

    Definisi internal control menurut COSO Suatu proses yang dijalankan oleh dewan direksi, manajemen, dan staff, untuk membuat reasonable assurance mengenai:

  • Efektifitas dan efisiensi operasional
  • Reliabilitas pelaporan keuangan
  • Kepatuhan atas hukum dan peraturan yang berlaku

  Dokumen COSO menyatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat terkait PengendalianInternal adalah dewan komisaris, manajemen, dan pihak-pihak lainnya yangmendukung pencapaian tujuan organisasi. Serta menyatakan bahwa tanggung jawab atas penetapan, penjagaan, dan pengawasan sistem Pengendalian Internal adalahtanggung jawab manajemen.

  Komponen Struktur Pengendalian Intern Untuk mencapai suatu pengendalian intern yang benar-benar memadai, terdapat komponen dasar kebijakan yang dirancang dan digunakan oleh manajemen.

  Komponen pengendalian intern menurut COSO (The Committee of Sponsoring Organizations) oleh Wing Wahyu Winarno dalam buku Sistem Informasi Akuntansi Ada lima, yaitu:

1. Control environment atau lingkungan pengendalian

2 . Control activities atau kegiatan pengendalian

  1. Risk assessment atau pemahaman risiko
  2. Information and communication atau informasi dan komunikasi
  3. Monitoring atau pemantauan.

Menurut kutipan diatas dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Lingkungan pengendalian

  Lingkungan pengendalian merupakan sarana dan prasarana yang ada di dalam organisasi atau perusahaan untuk menjalankan struktur pengendalian intern yang baik. Beberapa komponen yang mempengaruhi lingkungan pengendalian intern adalah:

  1. Komitmen manajemen terhadap integritas dan nilai-nilai etika ( Commitment to integrity

and ethical values ).

  1. Filosofi yang dianut oleh manajemen dan gaya operasional yang dipakai   oleh manajemen

( Manajements philosophy and operating style ).

  1. Struktur organisasi ( Organizational structure ).
  2. Komite Audit untuk Dewan Direksi ( The audit committee of the board of directors ).
  3. Metode pembagian tugas dan tanggung jawab ( Methods of assigning authority and responsibility).
  4. Kebijakan dan praktik yang menyangkut sumber daya manusia ( Human resources policies and practices ).
  5. Pengaruh dari luar ( External influences ).
  6. Kegiatan pengendalian

Kegiatan pengawasan merupakan berbagai proses dan upaya yang dilakukan oleh manajemen

perusahaan untuk menegakkan pengawasan atau pengendalian operasi perusahaan. COSO mengidentifikasi setidak-tidaknya ada lima hal yang dapat diterapan oleh perusahaan, yaitu:

  1. Pemberian otorisasi atas transaksi dan kegiatan ( Proper authorization of transactions and activities ).
  2. Pembagian tugas dan tanggung jawab ( Segregation of duties ).
  3. Rancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang baik ( Design and use of adequate documents and records ).
  4. Perlindungan yang cukup terhadap kekayaan dan catatan perusahaan ( Adequate safeguards of assets and records ).
  5. Pemeriksaan independen terhadap kinerja perusahaan ( Independent checks on performance ).
  6. Pemahaman risiko

    Manajemen perusahaan harus dapat mengidentifikasi berbagai risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Dengan memahami risiko, manajemen dapat mengambil tindakan pencegahan, sehingga perusahaan dapat menghindari kerugian yang besar. Ada tiga kelompok risiko yang dihadapi perusahaan, yaitu:

  1. Risiko strategis, yaitu mengerjakan sesuatu dengan cara yang salah (misalnya: harusnya dikerjakan dengan komputer ternyata dikerjakan secara manual).
  2. Risiko finansial, yaitu risiko menghadapi kerugian keuangan. Hal ini dapat disebabkan karena uang hilang, dihambur-hamburkan, atau dicuri.
  3. Risiko informasi, yaitu menghasilkan informasi yang tidak relevan, atau informasi yang

keliru, atau bahkan sistem informasinya tidak dapat dipercaya.

  1. Informasi dan Komunikasi Perancang sistem informasi perusahaan dan manajemen puncak harus mengetahui hal-hal di bawah ini:

  a Bagaimana transaksi diawali

  1. Bagaimana data dicatat ke dalam formulir yang siap di- input ke sistem komputer atau langsung dikonversi ke sistem komputer.
  2. Bagaimana file data di baca di organisasi dan diperbaharui isinya
  3. Bagaimana data diproses agar menjadi informasi dan informasi diproses lagi menjadi informasi yang lebih berguna bagi pembuat keputusan
  4. Bagaimana informasi yang baik dilakukan
  5. Bagaimana transaksi berhasil
  6. Pemantauan

Pemantauan adalah kegiatan untuk mengikuti jalannya sistem informasi akuntansi, sehingga

apabila ada sesuatu berjalan tidak seperti yang diharapkan, dapat diambil tindakan segera.

Berbagai bentuk pemantaun di dalam perusahaan dapat dilaksanakan dengan salah satu atau semua proses berikut ini:

  1. Supervisi yang efektif (effective supervision) yaitu manajemen yang lebih atas mengawasi

manajemen dan karyawan di bawahnya.

  1. Akuntansi pertanggungjawaban (responsibility accounting) yaitu perusahaan menerapkan suatu system akuntansi yang dapat digunakan untuk menilai kinerja masing-masing manajer, masing-masing departemen, dan masing-masing proses yang dijalankan oleh perusahaan.
  2. Audit internal (internal auditing) yaitu pengauditan yang dilakukan oleh auditor di dalam perusahaan.

  Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komponen pengendalian intern terdiri dari:

lingkungan pengendalian, kegiatan pengawasan, pemahaman risiko, informasi dan komunikasi sreta pemantauan.

  Kegiatan Pengendalian Intern

Menurut Wing Wahyu Winarno dalam buku Sistem Informasi Akuntansi kegiatan pengendalian intern terdiri dari:

  1    Pemberian otorisasi atas transaksi dan kegiatan

  1. Pembagian tugas dan tanggung jawab
  2. Perancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang baik
  3. 4.      Perlindungan yang cukup terhadap kekayaan dan catatan perusahaan
  4. 5.      Pemeriksaan independen terhadap kinerja perusahaan.

  Menurut kutipan diatas dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Pemberian otorisasi atas transaksi dan kegiatan Otorisasi adalah pemberian sebagian kekuasaan manajemen kepada karyawan untuk melakukan kegiatan dan mengambil keputusan. Hal ini perlu dilakukan karena manajemen tidak akan mampu membuat semua keputusan dan menjalankan semua kegiatan di dalam perusahaan.
  2. Pembagian tugas dan tanggung jawab Tidak ada satu karyawan atau satu bagian pun yang

dapat menyelesaikan suatu transaksi tanpa campur tangan pihak lain. Wewenang dan tanggung jawab di bagi atas tiga fungsi, yaitu:

  1. Fungsi penyimpanan
  2. Fungsi pencatatan
  3. Fungsi pemberian otorisasi
  4. Perancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang baik Dokumen akan disimpan dalam waktu yang lama. Oleh karenanya, bahan yang digunakan untuk membuat dokumen juga harus merupakan bahan yang tahan lama dan berkualitas baik.
  5. Perlindungan yang cukup terhadap kekayaan dan catatan perusahaan

  Perlindungan yang dapat dilakukan oleh perusahaan, agar tidak terjadi pencurian dan penggunaan tanpa otorisasi, diantaranya dengan melakukan hal-hal di bawah ini:

  1. Pengawasan dan pembagian tugas dan tanggung jawab yang baik
  2. Penyelenggaraan catatan aktiva dan penyajian informasi yang akurat
  3. Pembatasan akses fisik terhadap kas dan berbagai dokumen penting
  4. Penyediaan tempat penyimpanan yang baik
  5. Pembatasan akses ruang-ruang penting
  6. Pemeriksaan independent terhadap kinerja perusahaan Pemeriksaan kinerja ini dapat dilakukan dengan salah satu langkah berikut:
  7. Melakukan rekonsiliasi antara dua catatan yang terpisah atau berbeda mengenai suatu rekening
  8. Membandingkan antara jumlah unit persediaan di gudang dengan jumlah menurut catatan persediaan

    Menyelenggarakan double entry bookkeeping, yaitu metode pencatatan yang selalu melibatkan setidak-tidaknya dua rekening untuk mencatat satu transaksi

  1. Menjumlah berbagai hitungan dengan cara batch totals , yaitu penjumlahan dari atas ke

bawah.

    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengendalian intern meliputi pemberian otorisasi transaksi dan kegiatan, pembagian tugas dan tanggung jawab, perancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang baik, perlindungan yang cukup terhadap kekayaan dan catatan perusahaan, dan pemeriksaan independent terhadap kinerja

perusahaan.

2.2.5    Keterbatasan Pengendalian Intern Menurut Azhar Susanto dalam bukunya Sistem Informasi Akuntansi menyatakan bahwa ada beberapa keterbatasan dari pengendalian intern, sehingga pengendalian intern tidak dapat berfungsi, yaitu:

  1. Kesalahan
  2. Kolusi
  3. Penyimpangan Manajemen
  4. Manfaat dan Biaya

  Menurut kutipan diatas dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Kesalahan muncul ketika karyawan melakukan pertimbangan yang salah atau perhatiannya selama bekerja terpisah.
  2. Kolusi terjadi ketika dua atau lebih karyawan berkonspirasi untuk melakukan pencurian (korupsi) di tempat mereka bekerja.
  3. Penyimpangan manajemen muncul karena manajer suatu organisasi memiliki lebih banyak otoritas dibandingkan karyawan biasa, proses pengendalian efektif pada tingkat manajemen bawah dan tidak efektif pada tingkat atas.
  4. Manfaat dan biaya, konsep jaminan yang meyakinkan atau masuk akal mengandung arti bahwa biaya pengendalian intern tidak melebihi manfaat yang dihasilkan.

    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keterbatasan pengendalian intern meliputi:

Kesalahan, kolusi, penyimpangan manajemen, serta manfaat dan biaya.

2.3 Struktur Pengendalian Intern Penjualan Struktur pengendalian intern penjualan merupakan hal pokok untuk lebih diperhatikan oleh seorang pimpinan perusahaan karena struktur pengendalian intern penjualan merupakan alat untuk mengetahui apakah aktivitas penjualan yang dilakukan oleh perusahaan sudah cukup baik atau belum, sehingga dapat diketahui besar volume penjualan yang telah dilakukan oleh perusahaan dalam suatu periode.

    Struktur pengendalian intern juga merupakan proses untuk mencapai tujuan tertentu. Komponen struktur pengendalian intern yang seharusnya ada dalam siklus penjualan dirancang untuk mencapai tujuan pokok pengendalian administratif, menjaga kekayaan perusahaan, dan menjamin ketelitian serta keandalan data akuntansi. Tujuan pengendalian intern juga harus mencapai hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi dan ditunjukkan sebagai pelaksanaan dan tindakan pengamanan terhadap harta yang dimiliki. Adapun komponen dari struktur pengendalian intern menurut COSO (The Committee of Sponsoring Organizations) oleh Wing Wahyu Winarno dalam buku Sistem Informasi Akuntansi

Ada lima, yaitu:

 1. Control environment atau lingkungan pengendalian

   2 . Control activities atau kegiatan pengendalian

  1. Risk assessment atau pemahaman risiko
  2. Information and communication atau informasi dan komunikasi
  3. Monitoring atau pemantauan.

  Berdasarkan uraian tersebut dapat diungkapkan bahwa apabila komponen-komponen struktur pengendalian intern tersebut dijalankan dengan baik, maka tujuan dari suatu perusahaan pun akan tercapai.

  Aktivitas penjualan merupakan pendapatan utama perusahaan, karenanya jika aktivitas penjualan barang tidak dikelola dengan baik maka secara langsung akan merugikan perusahaan. Hal ini disebabkan oleh sasaran penjualan yang diharapkan tidak tercapai dan pendapatan perusahaan pun berkurang, maka dari itu dalam melakukan aktivitas penjualan pengendalian intern penjualan sangatlah diperlukan.


sumber;
rnurinaramadhani.blogspot.in/2013/01/32
nickoprasetioo.blogspot.in

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s